MUQODIMAH

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئآت أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدي Assalamu'alaikum, Marhaban Ya Ikhwan ..... Antum Saat Ini Sedang Mengunjungi Blog Pribadinya Abu Abdurrahman Al-Bantani. Untuk Komentar ... Saran ... Kritik ... Serta Informasi Kajian Di Tempat Antum Semua Silahkan Kirim Ke (muhammad.irfan09@gmail.com) Semoga Allah Memberikan Kebaikan Kepada Antum Dan Kami ... Barakallahu Fiekum.

Minggu, 12 Juni 2011

AMALAN DI BULAN RAJAB


"AMALAN DI BULAN RAJAB"


Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.

Rajab Di Antara Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.


Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)


Bulan Haram Mana yang Lebih Utama

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).


Hukum Yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

“Tidak ada lagi faro’ dan ‘atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied.

‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.” (HR. ‘Abdur Rozaq, hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah).” (Latho-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.


Mengkhususkan Shalat Tertentu

Dan Shalat Roghoib Di Bulan Rajab

Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan, “Sungguh, orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.” (Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)


Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)

Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)


Catatan Penting

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, “Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.


Selesai disusun di Wisma MTI, 5 Rajab 1430 H

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

HUKUM MENGKHUSUSKAN PUASA DI BULAN RAJAB


"PUASA KHUSUS DI BULAN RAJAB"

Ada faedah berharga dari Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai amalan di bulan Rajab termasuk berpuasa ketika itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

أَمَّا تَخْصِيصُ رَجَبٍ وَشَعْبَانَ جَمِيعًا بِالصَّوْمِ أَوْ الِاعْتِكَافِ فَلَمْ يَرِدْ فِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ . وَلَا أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ بَلْ قَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ . أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ إلَى شَعْبَانَ وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ السَّنَةِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ مِنْ أَجْلِ شَهْرِ رَمَضَانَ . وَأَمَّا صَوْمُ رَجَبٍ بِخُصُوصِهِ فَأَحَادِيثُهُ كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ بَلْ مَوْضُوعَةٌ لَا يَعْتَمِدُ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا وَلَيْسَتْ مِنْ الضَّعِيفِ الَّذِي يُرْوَى فِيالْفَضَائِلِ بَلْ عَامَّتُهَا مِنْ الْمَوْضُوعَاتِ الْمَكْذُوبَاتِ

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Hadits-haditsnya bukanlah hadits yang memotivasi beramal (fadhilah amal), bahkan kebanyakannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.” (Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

So .... tidak ada yang istimewa dengan puasa di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab adalah di antara bulan-bulan haram (klik di sini), namun tidak ada keistimewaan bulan Rajab dari bulan haram lainnya. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya. Juga tidak ada pengkhususan berpuasa pada hari tertentu atau tanggal tertentu di bulan Rajab sebagaimana yang diyakini sebagian orang (klik lagi di sini).

Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab. Bahkan bulan Ramadhan semakin dekat, maka segeralah qodho puasa Ramadhan yang ada jika memang masih ada utang puasa.

Semoga Allah beri taufik untuk tetap beramal sholih sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam.


Riyadh-KSA, 29 Jumadats Tsaniyyah 1432 H

Jumat, 22 April 2011



Mari Ajak Kerabat Dan Keluarga Kita
Untuk Menuntut Ilmu Agama


DAUROH
PELAJAR DAN MAHASISWA



PEMATERI

Ustadz Zainal Abidin Bin Syamsudin, Lc

&

Ustadz Badrussalam, Lc


INSYA ALLAH DILAKSANAKAN PADA
Hari Ahad 24 April 2011


SESI PERTAMA
"Membangun Karakter Muslim Kaffah"
Pemateri
Ustadz Zainal Abidin Bin Syamsudin, Lc
Pukul 08:30 s/d 12:00


SESI KEDUA
"Meniti Jalan Kebenaran"
Pemateri
Ustadz Badrussalam, Lc


Bertempat Di Auditorium Arifin Panigoro
Universitas Al-Azhar Indonesia Lantai 3
Komplek Masjid Agung Al-Azhar
Jl. Sisingamaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan


CONTACT PERSONS
0857 1959 0003
0838 9893 6609


DIDUKUNG OLEH
Radio Rodja
Laboratorium Bahasa UAI
Yayasan ABu Dzar


Sabtu, 29 Januari 2011

KUMPULAN DOWNLOAD AUDIO BERSAMA ASATIDZ AHLUSSUNNAH

KUMPULAN DOWNLOAD AUDIO
ASATIDZ AHLUSSUNNAH


(sumber : moslemsunnah)

KAJIAN PEDULI MERAPI
"Ulurkan Tangan & Do'a Untuk Mereka"


(Ustadz Abu Sa'ad Nurhuda, MA)


Ustadz Abu Sa’ad_Ulurkan Tangan & Doa Untuk Mereka.mp3



BEGINILAH AKHLAK PARA SALAF
DAN SIKAP MEREKA DITENGAH MUSIBAH


(Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawy)


Beginilah Akhlaq Salaf.mp3

Sikap Di Tengah Musibah.mp3


BERDAKWAH DENGAN SENTUHAN HATI
(Ustadz Abdullah Zein, MA)

Berdakwah dengan Sentuhan Hati 01
Berdakwah dengan Sentuhan Hati 02



FIQIH MUAMALAH MALIYAH

(Ustadz Kholid Syamhudi, Lc)



Download
Fiqih Muamalah maliyah


JALAN SURGA
YANG TERLALAIKAN DI AKHIR ZAMAN

(Ustadz Abul Izzi)


Sesi Materi [HQ]
Sesi Tanya Jawab [HQ]



MENGENAL BENTUK KERJASAMA DAGANG

DALAM ISLAM BESERTA PERMASALAHAN
DAN SOLUSINYA SESUAI SYARIAT ISLAM


(Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA)



Sarikat/Kerjasama Dagang: | Download


Sarikat Dagang: Download



TABLIGH AKBAR KOTA MEDAN
(Ustadz Abu Qotadah)

Jihad Membela Agama Allah 01
Jihad Membela Agama Allah 02
Pengaruh Maksiat Terhadap Individu dan Masyarakat 01
Pengaruh Maksiat Terhadap Individu dan Masyarakat 02
Pembatal-pembatal Amal


MENGENAL IMAM MAHDI

DAJJAL DAN NABI ISA

(Ustadz Arman Amri, Lc)


Download

Memgenal Imam Mahdi, Dajjal Dan Nabi Isa





DOWNLOAD KUMPULAN KHUTBAH JUM'AT

DOWNLOAD KUMPULAN
AUDIO KHUTBAH JUM'AT

(sumber : moslemsunnah)


DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT

"Hakikat Kehidupan Manusia"

Penceramah
(Ustadz Badrusalam, Lc)

Berikut ini kami hadirkan rekaman khutbah jum’at yang diselenggarakan di Masjid Al-Barkah Cileungsi, Bogor hari ini Jum’at, 28 Januari 2011. dengan khotib Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Tema khutbah yang disampaikan ” Hakikat Kehidupan Manusia “.

Semoga nesehat yang disampaikan beliau bermanfaat untuk kaum muslimin

Silahkan download pada link berikut

Atau download dalam format mp3.zip Disini




DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT
"CIRI KHAS ISLAM"

Penceramah
(Ustadz Abdurrahman Thayyib, LC)

Dan berikut kami hadirkan pula rekaman khutbah jum’at yang diselenggarakan di di Masjid Cakra Lombok Barat pada tanggal 28 Januari 2011. Khotib Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc dengan tema khutbah ” Ciri Khas Islam “.

Silahkan download pada link berikut

Atau download dalam format mp3.zip Disini



DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT

"KEUTAMAAN WAKTU"

Penceramah

(Ustadz Badrusalam, Lc)

Berikut ini kami hadirkan rekaman khutbah jum’at yang diselenggarakan di Masjid Al-Barkah Cileungsi, Bogor hari ini Jum’at, 21 Januari 2011. dengan khotib Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Tema khutbah yang disampaikan ” Keutamaan Waktu “.

Semoga nesehat yang disampaikan beliau bermanfaat untuk kaum muslimin.

Silahkan download pada link berikut

Atau download dalam format mp3.zip Disini



DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT
"Hidayah Yang Di Ridhoi"

Penceramah

(Ustadz Badrussalam, Lc)

Berikut ini kami hadirkan rekaman khutbah jum’at (Jum’at, 14 Januari 2011) di Masjid Al-Barkah, Cileungsi Bogor. dengan khotib Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Tema khutbah yang disampaikan ” Hidayah Yang Di Ridhoi “.

Semoga nesehat yang disampaikan beliau bermanfaat untuk kaum muslimin,

Silahkan download rekamannya pada link berikut:

Atau download dalam format mp3.zip Disini



DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT
"Berlemah Lembutlah Dalam Berdakwah"

Penceramah
(Ustadz Abdullah Zaen, MA)

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at yang diselenggarakan di Masjid Al-Hunafa` Lombok Barat tanggal 7 Januari 2011 dengan khotib Ustadz Abdullah Zaen, MA dengan tema khutbah ” Berlemah Lembutlah dalam Berdakwah “.

Silahkan download rekamannya pada link berikut:

Berlemah lembutlah dalam Berdakwah.mp3



DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT

"Hikmah Dari Perjalanan Waktu"

Penceramah

(Ustadz DR. Ali Musri, MA)

Berikut kami sampaikan juga rekaman Khutbah Jum`at yang disampaikan oleh Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA di Masjid Islamic Center Al-Hunafa` Lawata Mataram, Jum’at 24 Desember 2010.

Dengan tema khutbah ” Hikmah dari Perjalanan Waktu “.

Untuk mendownload silahkan klik pada link berikut

Hikmah dari Perjalanan Waktu


Download



DOWNLOAD KHUTBAH JUM'AT
"Mengenal Aliran Sesat Dengan Ilmu Bermanfaat"


Penceramah
(Ustadz Zainal Abidin, Lc)


Berikut kami sampaikan rekaman khutbah jum’at hari ini, Jum’at 24 Desember 2010 dengan khotib Al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc di Masjid Al-Furqon PT. United Tractor, Jakarta Timur.

Dengan mengambil tema “Menangkal Aliran Sesat Dengan Ilmu Bermanfaat”.

Silahkan download pada link berikut:

Khutbah Jum’at_(Materi) 2.9 MB
Shalatnya (Qs. Ar-Rahman) 1.0 MB

Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD EBOOK DARI MUTIARA NASIHAT PARA MASYAIKH

DOWNLOAD EBOOK



JUDUL BUKU

Sekali Lagi ... Berlemahlembutlah Wahai Ahlus Sunnah
Kepada Ahlus Sunnah


PENULIS BUKU

Al-’Allamah al-Muhaddits asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin

al-’Abbad al-Badr


JUDUL ASLI

و مرة أخرى رفقاً أهل السنة بأهل السنة


ALIH BAHASA

Abu Salma Muhammad


MUROJA'AH OLEH

Al-Ustadz Fakhruddin ‘Abdurrahman, Lc.

(Mudir Ma’had Abu Hurairoh Lombok)


SEKILAS TENTANG BUKU INI

Berikut ini adalah terjemahan risalah terbaru Syaikh al-‘Allâmah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad terbaru yang berjudul wa marrotan ukhrô Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah (Sekali lagi, Berlemahlembutlah wahai ahlus sunnah kepada ahlus sunnah). Risalah ini adalah bentuk luapan perasaan sekaligus nasehat dari asy-Syaikh terhadap fenomena yang terjadi di barisan ahlus sunnah berupa sikap saling mencela, membelakangi, memboikot, menjatuhkan bahkan sampai menvonis bid’ah dan sesat

Kami memandang pentingnya menerjemahkan risalah ini ke dalam Bahasa Indonesia, agar dapat dipetik manfaatnya bagi kaum muslimin Indonesia pada umumnya, dan salafiyun pada khususnya. Risalah terjemahan ini telah diperiksa oleh Ustadz Fakhruddin, Lc. (Mudir Ma’had Abu Hurairoh Lombok)–Jazzahullahu Khoyrol Jazaa’ ‘anil Islam wal Muslimin


"Penting Untuk Di Baca"


Ebook ini boleh disebarluaskan dalam bentuk apapun namun tidak

untuk tujuan komersil

Untuk mendownload ebook ini, silakan klik gambar di bawah



~ abusalma.net ~






JUDUL BUKU


Berlemahlembutlah Wahai Penuntut Ilmu
Mutiara Nasehat Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam


JUDUL ASLI

نصيحة فضيلة الشيخ محمد الإمام حفظه الله وسدد خطاه
حول الجرح والتعديل بين طلبة العلم


ALIH BAHASA

Abu Salma Muhammad


MUROJA'AH OLEH

Al-Ustadz Fuad Hamzah Barabba, Lc.

(Dosen STAI ‘Ali bin Abi Thalib Surabaya)


SEKILAS TENTANG BUKU INI

Berikut ini merupakan terjemahan transkrip ceramah ilmiah seputar nasehat dan arahan yang sangat bermanfaat, dengan izin Allah, yang disampaikan oleh Fadhilatus Syaikh Muhammad ’Abdillah al-Imâm –semoga Allah menjaga beliau dan menjadikan (ilmu)nya bermanfaat- di saat pertemuan yang mubarak (penuh berkah) yang dihadiri oleh para penuntut ilmu syar’i di Yaman pada tanggal 10 Dzulqo’dah 1431 H. Beliau adalah penanggung jawab Ma’had Darul Hadits di Ma’bar Yaman

Ceramah ini sungguh mengandung mutiara-mutiara yang berharga dari nasehat-nasehat yang mengagumkan dan pengarahan-pengarahan yang sarat dengan manfaat, yang disampaikan di saat dan kondisi yang sangat tepat sekali –segala puji hanya milik Allah- sebagai petunjuk bagi jalannya dakwah salafiyyah yang mubarakah (penuh berkah) ini, yang pada masa-masa akhir ini telah terkontaminasi oleh sebagian pemikiran asing dan karakter yang jauh dari asholah (keaslian) manhaj salaf!

Semoga Allah membalas Syaikh Muhammad al-Imâm semoga Allah senantiasa menjaganya- dengan sebaik-baik ganjaran, atas upaya yang yang telah dipersembahkannya –dan apa yang akan beliau persembahkan- dalam menolong da’wah yang mulia ini dan jalan yang menentramkan ini


"Penting Untuk Di Baca"


Ebook ini boleh disebarluaskan dalam bentuk apapun namun tidak untuk tujuan komersil

Untuk mendownload ebook ini, silakan klik gambar di bawah



~ abusalma.net ~

Kamis, 16 Desember 2010

DAUROH DU'AT 2010

(sumber : moslemsunnah)


Alhamdulillah
Setelah Sukses Menyelanggarakan Dauroh Du’at I Yang Dilaksanakan Pada Pertengahan Tahun 2010 Yang Lalu
Dengan Izin Dan taufiq Dari Allah
Insya Allah Forum Suara Quran Surakarta kembali Akan Menyelenggarakan Dauroh Du’at II yang insya Allah Akan Diselenggarakan Selama Dua Hari
Yaitu Tanggal 25-26 Desember 2010

Bagi ikhwan Dan Akhowat Yang Ingin Berpartisipasi

Untuk Menyukseskan Acara Ini Bisa Menyalurkan Donasinya

Melalui nomor rekening Berikut

(BCA 3940147955 atas nama Ahmad Sarsito, Amd)


Silakan konfirmasi donasi Anda melalui SMS

Dengan format

(Nama#Alamat#Jumlah Donasi)

Kirim Ke Nomor 0813 2904 5923


Semoga Allah Membalas Kebaikan Kita Semua Dengan Balasan Yang

Terbaik Di Dunia Dan Akhirat

Berikut Ini Adalah Proposal Donasi Dakwah

Daurah Du’at II

Jazakumullahu khaira


~*~

FORUM SUARA QURAN SURAKARTA
FORUM KOMUNIKASI KAJIAN ISLAM WILAYAH SURAKARTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلن
تجد له ولياً مرشداً، وأشهد أن لا إله الله وأشهد أن محمد عبده ورسوله.أما بعد ، فإن خير الكلام كلام الله ، وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها ، وكل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Sesungguhnya menyerukan agama Allah adalah sesuai dengan cara-cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Bahkan, menyerukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan cita-cita para rasul dan seluruh pengikutnya untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang, dari kekufuran rnenuju keimanan, dari kemusyrikan menuju ketauhidan dan dari neraka menuju surga.

Tidaklah layak orang-orang yang bodoh menjadi seorang da’i, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

”Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.’” (QS. Yusuf : 108).

Dalam rangka meningkatkan kualitas keilmuan para da’i Salafiyyin di Solo dan sekitarnya, kami berencana akan mengadakan kajian Dauroh Du’at ke-2 selama dua hari, yaitu Sabtu-Ahad, 25 dan 26 Desember 2010 dengan mengundang 100 peserta. Materi dalam dauroh ini melanjutkan pembahasan kitab Usus Manhaj Salaf fi Dakwati Ilallah yang insya Allah akan disampaikan oleh Ustadz DR. Ali Musri M.A, Ustadz Abdullah Taslim, M.A dan Ustadz Aris Sugiyarto, bertempat di Kompleks Masjid An-Nuur, Karangpandan, Karanganyar.

Untuk menyukseskan acara ini, kami mengajak Bapak/Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini, yaitu sebagai donatur, tentunya setelah berharap bantuan dan kemudahan dari Allah. Rincian dana yang dibutuhkan ada pada halaman lampiran. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam menyukseskan acara ini, dan membalas kebaikan Bapak/Ibu dengan sebaik-baik balasan. Atas perhatian dan bantuannya kami ucapkan jazakumulah khairan.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Surakarta, 6 November 2010

Mengetahui,
Ketua Panitia Penasihat

Amirulhuda Romadhoni Ustadz Aris Sugiyantoro

~*~

DAUROH DU’AT SURAKARTA
19-20 MUHARRAM 1432 H/25-26 DESEMBER 2010

MASJID AN-NUUR KARANGPANDAN KARANGANYAR

SUSUNAN PANITIA INTI

1. Penasihat
– Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin (Pimpinan Ma’had Imam Bukhari)

– Ustadz Aris Sugiyantoro (Pimpinan Ma’had Al-Ukhuwah)

2. Ketua
– Amirulhuda Romadhoni (Sragen)

– Pudi Abu Muhammad (Kartasura)

3. Sekretaris
– Abu Yumna (Klaten)

4. Bendahara
– Yusuf (Solo)

5. Acara
– Ustadz Adi Abdul Jabbar (Ma’had Imam Bukhari)

– Ustadz Agus Santoso (Ma’had Imam Bukhari)

6. Humas
– Ustadz Abdul Qahhar (Radio Suara Quran)

7. Transportasi
– Ma’hadul Uluum Karanganyar

8. Panitia Pelaksana
– Ma’hadul Uluum Karanganyar

~*~

ANGGARAN DANA

A. PEMASUKAN
Kontribusi Peserta Undangan (100 x Rp.10.000) : Rp 1.000.000

Pengumpulan Infaq : Rp 4.000.000

Donatur : Rp 4.500.000

B. PENGELUARAN
Kesekretariatan : Rp. 500.000

Perlengkapan : Rp 1.000.000

Akomodasi Pemateri : Rp 5.000.000

Transportasi : Rp 1.000.000

Sound System : Rp 500.000

Konsumsi Peserta (3 x 100 x Rp. 5.000) : Rp 1.500.000 +

TOTAL Rp 9.500.000

Contact Person: 0852 9315 5252


About

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More